Label

Kamis, 27 Juni 2013

Tentangnya

Fatin melemparkan nokia X2nya. Seiring dengan tubuhnya yang ia sandarkan dibelakang pintu kamarnya. Ia begitu sakit. Tapi tak terlihat. Perasaannya tak karuan. Rindu-rindu yang lama kembali mengguncang hatinya. Kegalauan yang belum sempat terobati kini semakin menumpuk saja. Matanya terlihat berat menahan berlian bening itu.

Ia masih saja bingung dengan tingkah Mikha-kekasihnya-yang tak mau ditemui. Membuat otaknya berfikiran negatif. Mungkin dia bosan akan dirinya. Mungkin dia tak lagi sayang padanya. Mungkin dia punya yang lainnya...

*
Wanita paruh baya itu memegang tangan seseorang. Memastikan apakah masih ada denyut nadi disana. Masih. Ia iba melihat anaknya ini. Sudah lima bulan lebih harus menggunakan alat bantu hidup yang entah apa namanya itu. Tubuh berisinya juga mulai berkurang. Hanya tersisa kulit dan tulang saja.

*
Fatin masih terduduk lemah di belakang pintu kamarnya. Ia kembali melihat foto-foto saat ia masih bersama Mikha-dulu. Matanya juga masih membendung cairan itu. Ia tak ingin terlihat cengeng. Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi aku gak boleh nangis. Aku yakin dimanapun Mikha berada. Dia akan selalu ada. Dihatiku.

*
Jemari kurus itu bergerak. Membuat wanita paruh baya-ibunya-terkejut. Putranya sadar. Tapi mata indah itu masih juga belum terbuka. Lalu diiringi bunyi-bunyi alat bantu hidup yang menunjukkan jantung putranya normal. Ia tahu itu. Ia seorang pensiunan dokter.
*

Fatin tersenyum lega. Entah karna ia melihat foto Mikha bergaya dengan gitar kesayangannya atau sebab lain. Tapi tiba-tiba perasaannya muncul kelegaan. Bagai menghirup udara desa setelah beabad-abad hidup di kota yang penuh polutan.
*

Matanya perlahan membuka. Tak jelas rupanya. Hanya wanita paruh baya yang nampak saat matanya terbuka. Ia tak tau siapa dia. Yang ia ingat hanya bayang-bayang gadis berjilbab dengan pipi tembam dan ekspresi menggemaskan. Membuat hati kecilnya tersenyum.

Tapi tak lama kemudian ia melihat seberkas cahaya menghampirinya. Entah cahaya apa itu. Mungkin malaikat yang akan membawanya pergi.
*

Entah alasan apa Fatin merasakan perih dalam hatinya-seperti semula-tapi ini lebih sakit. Rasanya ia akan kehilangan seseorang. Tapi siapa? Air matanya tiba-tiba tumpah mendarat di foto-itu. Ia mengadu pada hatinya. Maafin aku, aku enggak nepatin janjiku. Tapi memang faktanya aku gak kuat. Hingga air mata ini jatuh. Mikha, rasanya aku gak akan sanggup jika harus kehilanganmu. Tapi aku akan janji ini terahir kalinya aku menangis. Dan kenapa aku mengadu pada hatiku? Karna dalam hatiku terdapat hati kamu Mikha..
*

Sakit itu perlahan menghilang. Saat ia pergi bersama cahaya itu. Ia merasa lelah. Tapi begitu lega. Ia terbang dengan cepatnya bersama kilatan itu.

Wanita paruh baya itu histeris. Saat bunyi alat bantu hidup begitu panjang. Ia mencium kening anaknya cukup lama. Membuat ia sadar, ternyata wajah anaknya itu mengeluarkan cahaya dan bau wangi-entah darimana asalnya. Tapi ia percaya wangi itu adalah wewangian dari surga. Bagaimanapun juga anaknya telah berjuang. Berjuang melawan kanker otak yang dideritanya.

TAMAT

Manfaat Air Putih


Seperti kita ketahui bahwa hati mengonversi lemak menjadi bahan bakar. Tanpa asupan air yang cukup, ginjal tidak akan berfungsi tingkat optimal. Akibatnya, hati akan bekerja ekstra keras untuk membantu ginjal melakukan tugasnya. Dan pada akhirnya hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Beberapa lemak akan tetap di dalam tubuh dan tidak dapat di konversi menjadi bahan bakar. Ini yang menyebabkan bertambahnya berat badan.

Minum air putih setiap hari dalam jumlah yang cukup memungkinkan hati melakukan fungsinya untuk membakar lemak dan mengubahnya menjadi bahan bakar dengan optimal. Tubuh kita mengandung lebih dari 60% air. Ketika tubuh mendapatkan air yang cukup, ia akan mencoba untuk menyimpan semua air itu ke dalam sel sedangkan sisanya akan dikeluarkan melalui urin. Minum air dalam jumlah yang cukup juga dapat menurunkan rasa lapar. Minum beberapa gelas air sebelum makan bisa menjadi cara efektif untuk mencegah makan berlebihan yang tentunya dapat mengakibatkan berat badan bertambah.
Orang yang memiliki kelebihan berat badan disarankan untuk minum sedikitnya 8 gelas air putih per harinya. Bahkan beberapa study membuktikan bahwa air es atau air dingin juga dapat membakar kalori, dengan membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Jika kita tidak terbiasa minum air putih dalam jumlah banyak, kemudian mulai mengonsumsinya dalam jumlah banak, pada awalnya akan tidak terasa nyaman dan bahkan akan menjadi sering buang air kecil. Semua itu adalah hal wajar dan setelah berjalannya waktu tubuh akan terbiasa dengan kebiasan baru mengonsumsi air putih tersebut. Selain membantu menurunkan berat badan, mengonsumsi air putih juga memiliki berbagai manfaat positif bagi kesehatan.
 Cegah sakit jantung
Menurut sebuah study yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemology, orang yang terbiasa minum air putih lebih dari 5 gelas per hari mengalami penurunan resiko sebesar 41% akibat penyakit jantung dan kematian mendadak.
 Cegah Migrain
Migrain atau sakit kepala sebelah bukanlah hal yang mengenakan, maka dari itu minum air putih tujuh gelas dalam sehari dapat meredakan sakit kepala dan meningkatkan kualitas hidup penderita migrain. Bahwa sakit kepala penderita migraine dapat berkurang 21 jam rasa sakitnya jika meminum 1,5 liter air perhari.
 Tingkatkan ketajaman otak
Otak membutuhkan oksigen untuk bisa bekerja sesuai fungsinya. Dengan meminum banyak air putih, kita bisa memastikan bahwa otak telah terpenuhi kebutuhan oksigennya. Bahkan minum 8-10 gelas air setiap hari dapat memperbaiki kemampuan kognitif otak sebesar 30%.
 Cegah penuaan dini
Kulit kering menjadi salah satu penyebab terjadinya penuaan dini. Air dapat melembabkan kulit, membuatnya tampak segar dan terbebas dari kulit kering, sehingga membuat wajah awet muda meski usia bertambah.
Menjaga kesehatan itu mudah, namun menjadi sehat yang susah..
Semoga bermanfaat 

Selasa, 14 Mei 2013

Teteh Ara LMI, akhirnya pulang

Assalamu'alaikum



Siapa sih yang gak kenal teteh ara? Peserta Little Miss Indonesia ituloh. Dia itu imut, lucu dan anak-anak banget *kan masih anak-anak*. hehe



Teteh Ara, mengaku tidak sedih kalau harus pulang, kemarin (12/Mei/13) seperti yang di tulis di balasan account twitternya @kinaranaya "Teteh ga sedih kok ...". Wah hebat ya, tapi teteh ara tetep jadi idolaku *gak ada yang nanyatuh*. hehe..

Sebagai hadiah karna mau baca postingan ini, aku upload foto-foto teteh ara





Ini dia sedikit biografi teteh ara yang aku tau :
Nama : KINARA AQIESKA
Umur : 3 th
Twitter : @kinaranaya

Aku nggak tau banyak maaf-maaf. Tunggu tokoh-tokoh selanjutnya ya! LMI juga InsyaAllah..

Senin, 06 Mei 2013

Siapakah Kawan Yang Baik ?

Kawan yang baik tidak pernah mengumpat di belakang kawan baiknya.
Kawan yang baik tidak pernah cemburu dengan kesuksesan kawan baiknya.
Sebaliknya kawan yang baiklah yang paling banyak membantu kawan baiknya untuk mencapai kesuksesan....

Kawan yang baik tak pernah mempengaruhi kawan baiknya untuk membuat hal yang buruk.
Kawan yang baik adalah orang yang selalu menasihati kawan baik nya untuk berbuat kebaikan.
Kawan yang baik adalah orang pertama yang akan dicari bila tiba masa sedih atau gembira.
Kawan baik menjadi tempat kita meluahkan perasaan yang tak dapat diluahkan kepada kawan biasa.

Kawan yang baik tak pernah memaksa kawan baiknya untuk sentiasa berada disisinya.
Kawan yang baik tak pernah melarang kawan baiknya untuk berkawan dengan kawan yang baik.

Kawan
yang baik tak pernah cemburu jika kawan baiknya mempunyai ramai kawan
baik, kerana kawan yang baik tahu apa yang paling baik untuk kawan
baiknya.
Kawan yang baik akan sentiasa mendoakan kesejahteraan dan kebahagiaan kawan baiknya di dunia dan di akhirat di dalam doanya.
Kita adalah kawan yang baik jika kita faham bahawa kawan baik kita bukanlah seorang yang sempurna.
Kita adalah kawan yang baik jika kita menjadi kawan yang baik kepada kawan baik kita.

Kita
bukanlah kawan yang baik jika kita tidak menghargai kawan baik kita,
kerana kawan yang baik akan sentiasa menghargai kawan baiknya.

Kita
bukanlah kawan yang baik jika kita tidak memberitahu perkara yang baik
kepada kawan baik kita, kerana kawan yang baik akan selalu menyampaikan
perkara yang baik kepada kawan baiknya.
p/s - Walaupun kita bukan seorang yang baik, tapi jadilah seorang kawan yang baik..

Selasa, 12 Maret 2013

You're key my heart

Angin lembut itu tidak mau diam. menyejukkan segala sesuatu di sekitarnya, membuat rumput dan dedauanan menari gembira di suasana sore yang hening. namun begitu damai.

Dua hati yang sedang beradu masih saja diam. Satu hati masih merunduk dan menatapi apa saja yang ada di bawahnya. Satunya lagi menangis hebat. ia butuh suatu ketenangan dan kejelasan. Pemilik kedua hati itu tak lain Key & Dewi. Mereka masih sama-sama larut dalam keheningan sore itu.

Sebelum akhirnya Key memberanikan diri memeluk Dewi erat. Dewi tak bisa berontak. Ia menikmati kehangatan tubuh Key sambil terisak. Di dalam dekapan itu Dewi merasakan sebuah ketenangan yang selama ini ia cari. Entah kenapa setiap Key memeluknya, ia merasa sebuah kedamaian menjamah bathinnya.

"Dewi, aku dan Icha nggak ada hubungan apa-apa" memcah keheningan.

Dewi berusaha berontak, namun itu sia-sia. Tubuh Key terlalu kuat untuk di kalahkan oleh gadis mungil seperti Dewi.

[Flashback]

Beberapa kali Icha melihat jam tangannya. Hujan lebat dan sambaran petir menemaninya di sore itu. Hujan itu telah memenjarakan langkahnya untuk kembali ke rumah. Tubuhnya yang memang tak boleh berlama-lama kedinginan mulai menggigil. Dadanya tiba-tiba sesak. Matanya mulai mengabur. Kepalanya juga sudah mulai terasa berat bagaikan tertimpa ribuan monas sekalipun.

Tak lama setelah itu Key datang. Sakit itu mulai sedikit hilang dan memudar. Bibirnya kini di hiasi senyum, Key bagaikan malaikat untuknya.

"udah lama nunggu ya? Maaf ya Cha, macet"

"Enggak kok kak. Aku boleh masuk nggak nih?"

Key nyengir. "Ya boleh lah, kan aku kesini juga mau njemput kamu". Key turun dari mobil dan membukakkan pintu untuk Icha.

"Makasih ya kak". Tanpa aba-aba Icha membenamkan wajahnya di dada Key. Key kaget dengan tingkah Icha. Tapi ia tau, Icha memang membutuhkan pelukkan itu. Sehingga ia melingkarkan tangannya dipunggung Icha tanpa ragu.

*

Aroma bunga & tanah yang menyeruak memberi aroma tersendiri di ruang hati Icha. Ia tampak bahagia berayun di bawah Parsea Americana yang gagah. Baru kali ini Key melihat Icha segembira ini.

Tiba-tiba langit menghitam. Malaikat sepertinya sudah bersiap-siap menjalankan tugas dari Tuhan. Membuat dua insan itu berlarian mencari tempat aman agar tidak terkena siraman air hujan. Namun itu sia-sia mereka terlambat. Air itu menyerang bertubi-tubi tanpa pilih-pilih. Akhirnya mereka memilih di bawah pohon Trembesi yang berdaun lebat.

"Ahh..curang!" desis Icha pelan. Masih terdengar oleh Key.

"Curang kenapa maksudmu Cha" tanya Key penasaran.

"Enggak kak. Nggak jadi. hehe.." Icha tersenyum. Key menggaruk kepalanya melihat tingkah Icha. Aneh. "Kak, kenapa yaa air hujan itu datangnya gak sendirian. Selalu rombongan"

"Kalo sendirian, namanya bukan hujan Cha hehe" celoteh Key. Membuat Icha tersenyum lebar.

Key memakaikan jaket putih berlengan hitam dan bertuliskan 20-12-2011 yang merupakan tanggal jadiannya dengan Dewi. Sekaligus tanggal birthday kekasihnya itu. Di tubuh kurus Icha yang mulai kedinginan. Icha tersenyum merasakan betapa perhatiannya sosok yang ia panggil 'kakak' karena ia masih duduk di bangku SMP. Sedang Key SMA. Key membalas senyuman sang beautiful angel.

Keadaanpun menjadi hening. Tak ada aktifitas lain. Kecuali mendengarkan alunan yang diciptakan oleh air hujan.

Dua jam sudah mereka berada di bawah pohon. Membuat pertahanan tubuh kurus Icha meronta. Hidungnya mengeluarkan darah. Penglihatannya mengabur. Kesadarannyapun mulai lenyap. Key yang sedang fokus pada pemandangan danau di depannya, tak tau Icha tergeletak di sampingnya-pingsan.

"Icha, hari ini aku bahagiaa banget. Apa kamu juga bahagia Cha?" tetap fokus dan memcah keheningan setelah beberapa saat membisu. Mendapati Icha yang tak merespon pertanyaannya, Key menoleh. Alangkah kagetnya Key. Ia mengguncangkan tubuh Icha lembut. Iapun membopong tubuh mungil Icha menuju tempat hangat. Baju biru langit bersih kini ternodai cairan berwarna merah.

*

Air mata menggenang di pelupuk matanya. Kini terasa panas. Bagaikan terkena asap neraka. Dadanya sesak luar biasa. Ia tak menyangka orang yang setahun ini menjabat sebagai pacarnya berkhianat. Ia mundur beberapa langkah. Tak sanggup lagi bila berlama-lama melihat pengkhianatan itu. Cairan bening kini meluncur bebas membasahi wajah moleknya.

Ia berlari sangat kencang, ketika sosok itu menemukkan dirinya di balik kaca jendela.

"Dewi.." panggil sosok itu-key- sekuat tenaga. Ia berusaha turun dari ranjang. Namun Icha mencegatnya.

"Kak.. Kakak masih sakit kakak istirahat dulu ya" rayu Annisa atau yang akrab di panggil Icha.

Icha mendapati ekspresi Key dengan rasa bersalah. Iapun melanjutkan menyuapkan sesendok bubur untuk Key.

"Cha, aku sudah kenyang"

"tapi kak ini masih sisa banyak" jawabnya pelan.

"Tapi aku sudah kenyang!" bentak Key. Membuat kaget Icha. Icha menangis hebat.

"Cha pergi dari sini sekarang juga!" Key kembali membentak. Ia melemparkan mangkuk, gelas dan ornamen lainnya yang berada di meja samping ranjangnya. Icha semakin menangis hebat. Ia merasakan kesakitan di jiwa dan raganya. Dengan bersusah payah keluar dari ruangan itu dengan tongkat yang ia kenakan. Dan menatap nanar Key. Sebelum benar-benar meninggalkan Key.

Key menyesal membentak Icha barusan. Ia mengacak-acak rambutnya. "arghh... kenapa aku jadi labil gini! aku sayang Dewi tapii aku juga sayang Icha" desahnya pelan. Fiuh..

"Dewi sudah, aku yakin cinta Key hanya untukmu. Dan ia dekat dengan Icha pasti ada sebabnya" nasihat Asya-sahabat Dewi-sembari menguatkan pelukannya.

"Sya, aku harus bagaimana?" melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.

Asya mengelus lembut punggung Dewi. Mencoba menguatkan. "coba kamu bicarakan dengan Key baik-baik. Jangan pakai emosi" jawabnya bijak. Dewi menangguk pelan. "Thanks ya Sya.." tersenyum.

[Flashbackend]

Drrtt..drrtt..drrtt...

Dewi melepaskan pelukannya setelah beberapa lama menikmati ketenangan di dekapan Key.

Dari : Asya 089xxxxxxx

Dewi, apa kamu sedang bersama Key?
Aku mohon agar Key segera ke Rumah Sakit Pelita Harapan..
Icha sangat membutuhkannya..
Thanks before..

"Icha membutuhkanmu Key.." tukasnya pelan.

*

"ka..kak.." ujar Icha terbata.

"kakak di sini Cha.." lirih Key.

"Pe..hh..gangghh... tang..an Icha kak.." terdengar menyesakkan. Dan langsung di iyakan Key.

Dewi yang menyaksikkan adegan itu hanya tersenyum nanar. Ada sesuatu menghenyakkan sistim syarafnya. Dadanya sesak seperti tertimpa ribuan beban berat. Asya yang berdiri di sampingnya mencoba menguatkan sahabatnya itu.

"Kakk.. sebelumm...hh Icha pergi.. Icha..hh bolehh ngo..monghh..." desahnya parau. Menyakitkan bathin Key. Andai saja Key dapat membaca isi hati Icha ia akan melarang Icha berbicara lagi.

Key mengangguk pelan namun terasa berat.

"Kakk.. Icha..hh sayang..hh sama..hh kakak..." sambil mengatur nafas.

"Iya, kakak juga sayaang banget sama Icha" jawabnya berat hati dan menoleh ke belakang. Ia tak enak dengan Dewi yang posisinya berada di belakangnya persis.

Dewi menitihkan air mata. Tak sanggup lagi menahannya. Ia marah sangat marah dengan Key.

Icha tersenyum lepas di balik alat bantu pernapasannya. "kalaau..hh Icha su..hh dahh pergi..hh.. kakak mau..hh kan me..hh nemani..hh Icha"

"Pasti Cha"

Matanya mengabur secara perlahan. Wajah tampan Key tak begitu jelas. Namun ia merasakan kasih sayangnya.

"janji..hh ya..hh kak..hh" sambil mengatur nafasnya yang cepat namun sesak. "kakak.. temani..hh Icha yaa..hh dan tidur..hh bareng..hh di samping.. Icha.. kakak janji yaa..hh"

"kamu ngomong apa Cha? Icha harus kuat dan suatu saat nanti kita bahagia bersama, mati bersama dan di kubur bersama. Kakak enggak mau kehilangan Icha" tegas Key menguatkan pertahanan jiwa Icha.

Dewi yang mendengarkan penuturan itu keluar menjauhi Key, Icha, Asya dan Karel-pacar Asya. Ia berlari sekencang-kencangya. Dan di saat itu Key merasa bingung. Ia merasa dilema ; diantara pilihan yang sulit.

Karel mengangguk. Key mengerti apa yang di maksudkan Karel. Lelaki berwajah oriental dan berkacamata kotak bingkai putih itu berlari menghampiri Dewi. Sekedar untuk menjelaskan dan menguatkannya.

Icha merasa lelah. Tubuhnya terasa ringan. Keringat dingin membanjir. Penglihatannya mulai mengabur dan meredup meskipun matanya terbuka. Ia hanya melihat sosok cahaya. Cahaya itu mungkin adalah malaikat yang bersiap mencabut nyawanya untuk kembali ke pangkuan Tuhan. Nafasnya terengah-engah seperti baru saja lari maraton dari Sabang sampai Merauke namun begitu pelan. Detak jantungnya mulai menghilang dan tak bisa ia rasakan lagi. Matanya perlahan mulai menutup. Ia pergi bersama cahaya itu.

"Icha.. kamu harus kuat.. DOKTER!!" teriaknya sekuat tenaga.

Dokter hanya geleng-geleng. Denyut nadinya sudah tak bisa ia rasakan. Artinya Icha telah pergi. Dan mungkin tak akan kembali untuk selamanya.

"Ichaaa..." Teriak Key. Sambil mengguncang-guncangkan tubuh dingin Icha.

Asya mengelus lembut punggung Key. Mencoba menguatkan. Dan ia memeluk Asya kuat-kuat berharap ketenangan. "Icha pergi gara-gara aku.." ujarnya hampir menangis. "inilah taqdir Tuhan yang Ia guratkan untuk makhlukNya Key. Tak ada seorangpun dapat mengelak apalagi mencegah kematian. Dan tak ada seorangpun yang tau kapan kematian itu datang. Kita sebagai manusia yang masih di berikan kesempatan menghirup nafas harus bersyukur dan berdoa agar kelak kita mendapatkan surgaNya". Kata panjang lebar Asya benar-benar mampu menghipnotis Key. Benar kata Asya.

"Thanks ya Sya. Kamu selalu menguatkan aku dan Dewi ketika kami menghadapi masalah" melepaskan pelukannya.

Asya tersenyum.

"Dewi" panggil Karel. Ia berhasil meraih tangan halus Dewi setelah berlari mengejarnya. Ia langsung memeluk Dewi erat. Meski tak sedamai pelukan Key namun pelukan itu mampu menciutkan rasa cemburu dan amarahnya. "Suatu saat nanti kamu pasti akan tau mengapa Key bersikap seperti itu". Ujarnya lembut.

*

Kedua pasang mata itu kembali beradu. Dewi ingin segera alur kisah cintanya segera berakhir. Ia tak kuat dengan sikap Key yang akhir-akhir ini suka menyendiri dan tak mau membalas atau mengangkat telepon darinya. Ia muak dengan semuanya. Kejadian tempo hari ia sudah mencoba melupakan dan sedikit memaafkannya. Meski itu sangat membuatnya sakit. Ia berusaha tegar.

Kelas XII IPA menjadi lattar betapa ia ingin membunuh lelaki di hadapannya itu. Suasana itu menjadi sangat mencekam ketika sudah tidak ada lagi manusia yang mengisinya kecuali mereka berdua.

"Aku benci kamu Key!!" teriak Dewi sekenannya. "Kamu tega banget Key! Kenapa kamu lakuin semua ini? Apa kamu sudah nggak sayang lagi sama aku? Kamu tega membiarkan aku kedinginan terpenjara hujan di kafe tempat kita janjian. Tapi apa! kamu nggak dateng kan Key!? Kamu lebih mentingin Icha! Dalam keadaan sakitpun kamu masih saja berduaan dengan dia!" Key mencoba menenangkan Dewi dengan memeluknya. Ya, rasa tenang itu Dewi rasakan. Namun ia tak boleh membiarkan Key melalang buana dalam menyakiti perasaannya. Dulu berulang kali ia berbohong untuk menemui Icha. Telepon, SMS, BBM tak ia balas.

Dengan kekuatan ekstra yang sedang dibaluti oleh rasa marahnya ia sukses mendorong Key hingga terjatuh. Ia berlari meninggalkan Key. Key berlari sekuat tenanga dan berhasil meraih tangan Dewi. Dewi berontak dan melepaskan genggaman itu.

"AKU BENCI KAMU KEY!!!!!!" Pekik Dewi keras. Dan mendorong Key ke belakang.

Saat itu Key berada di posisi yang kurang siap. Sehingga ia jatuh tersungkur kebelakang. Namun perlu di ingat. Mereka sedang berada di beranda lantai dua. Kebetulan penghalangnya sedang rusak dan hanya di batasi oleh bambu yang hanya di letakkan. Entah karena memang tak kuat atau apa Dewi ikut jatuh. Dengan keadaan ia memegang erat tangan Key.

Key berada pada posisi yang paling bawah, jatuh menghantam paving block. Sedang Dewi berada di atas tubuh Key, jatuh menyenggol tanaman eurobia : sejenis kakktus yang berduri besar. Dan langsung mengenai bagian vitalnya-mata.

Mereka sama-sama tak sadar. Tangan Dewi menggenggam erat tangan Key yang mengeluarkan darah sangat banyak. Kepalanya pecah. Bagian otaknya sangat terlihat jelas. Ia tewas di tempat. Asya yang menyaksikan adegan itu tak mampu berbuat apa-apa. Hanya ada perasaan ngeri yang menggerogoti batinnya. Karel segera datang dan menelpon ambulance.

*

Matanya mengerjap beberapa kali. Penglihatannya buram dan kabur. Ia kembali mengerjap. Kini sudah mendingan. Namun masih agak kurang jelas. Ia mendapati Asya, Karel, dan orang tuanya berdiri mengelilingi dirinya. Satu persatu mereka berhamburan untuk sekedar memeluk Dewi. Di balik kegembiraan itu ada sesuatu yang ia cari. Key! Dimana Key?

Sesekali ia melihat di balik kaca jendela. Key yang ia cari belum kunjung juga datang. "apa dia.." desahnya sangat pelan. Pikiran itu ia buang jauh-jauh. Kenangan beberapa jam lalupun terputar kembali. Ia ingat betul kejadian pagi tadi. Ia mendorong Key sangat kasar hingga ia dan Key terjatuh. Key tersungkur dan badannya mengenai paving block. Hanya itu yang ia ingat.

"Sya, dimana Key?" tanya Dewi penasaran.

"Key.. fiuh.." ia menghela nafas. "Key meninggal Wi.." tegasnya dengan nada melemah.

Dewi menangis hebat mendengar penuturan Asya. "kamu bercanda kan Sya.. Key, ini gara-gara aku.." mendesah pelan di dalam pelukan Asya.

"Wi.. Aku temuin ini di tas Key. Ini mungkin kado untukmu, maaf ya Wi aku lancang membukanya dan membaca surat ini" ujar Karel sembari menyerahkan sebuah kado dan kertas berwarna biru langit-warna favorit Key. Dewi diam tak bersuara dan mulai membaca surat itu.

Happy birthday my princess Dewi..

Sebelumnya kamu pasti marah banget sama aku ya? Jawab iya aja deh..

Maaf banget aku enggan membalas SMSmu, mengangkat teleponmu. Tapi aku lakuin cuma nulis surat ini. Kamu pasti mengira aku merutuki kepergian Icha. Itu sangat salah Dewi. Jujur aku sangat pusing akan mengungkapkan kata apa untukmu. Karena keindahan sosokmu tak dapat ku lukiskan dalam sebuah kata-kata. Kamu adalah sosok nyata ku miliki. Sungguh Dewi kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untukku. Aku berharap keindahanmu tak akan pudar di makan zaman. Bukan, sama sekali bukan keindahan fisikmu. Namun keindahan hatimu yang mau berbesar hati berbagi aku dengan Icha.. hehe

Dewi percayalah kamu adalah wanita yang paling aku cintai setelah ibuku. Aku sayaaang banget sama kamu. Ya, aku memang menyayangi Icha. Sayangku padanya nggak lebih kok. Aku menganggap dia sebagai adikku sendiri.

Oya aku menulis surat ini kan dengan maksud mendo'akanmu..

Semoga kamu hidup seperti hujan ya? Memberi kepada siapapun tanpa pilih-pilih. Meski ia musuhmu. Dan jangan pernah kau lelah untuk memberi ya. Sama saja bohong kalau kamu memberinya hanya sekali. Harus continue oke.. Coba kalau hujan itu hanya satu air yang menetes? Percuma kan? Namanya jadi bukan hujan.. hehe. Pasti kamu lebih cerdas menanggapinya. Aku juga sudah bingung mau nulis apa..

Sekali lagi happy birthday yaa.. Semoga panjang umur dan sehat selalu..

Salam manis, semanis yang baca..

Key Alexander Jonathan.

"Key..." desahnya sambil meremas surat itu. Meski tak begitu apik dan jelas tapi ada kata yang ia ingat "...jadilah kau seperti hujan. Memberi tanpa pilih-pilih.." benar kata Key. Amarahnya terhadap mendiang Icha harus segera di buang jauh-jauh. Bagaimanapun juga Icha dan Key sudah sama-sama tenang. Dan ketenangan itu tak boleh ia ganggu. Dengan begitu artinya ia telah memberi. Saat ini yang penting adalah bagaimana ia membangun semangatnya lagi.

Baik Karel maupun Asya sama-sama tersenyum miris. Merasakan betapa mereka kehilangan sang class leader sekaligus sahabatnya itu. Mereka juga iba dengan Dewi. Gadis sebaik dia harus mempunyai kisah cinta yang liku dan berakhir tragis.

"Sya.. Izinkan aku ke makam Key ya? Please" ujarnya memasang wajah melas.

"Kenapa harus izin dengan aku? Siapapun boleh pergi ke pemakaman termasuk kamu.." ujar Asya pelan. Seperti biasanya.

"Tapi aku yang udah membuat dia meninggal. Karel tolong bunuh aku, Asya cepat tancapkan gunting ini ke dada, perut atau mana saja. Biar aku mati saja!" pekiknya dengan nada pol dan menggenggam sebuah gunting.

Asya mengangguk pelan. Sebelum Karel menatapi lekuk wajah kekasihnya yang baru ia sadari sangat cantik.

Tiba-tiba Karel memeluk Dewi. Ia sedikit kikuk ada Asya di depannya. Ia merasa tidak enak dan memberi tanda menolak. Namun pelukan itu semakin kuat saja. Asya mengangguk. Iapun ikut serta dalam hangatnya tubuh Karel. Key aku akan berusaha menysukuri aku pernah merasakan betapa damainya ketika dipelukmu. Dan ia harus mempelajarinya untuk itu.

Pergilah kau Key. You’re key my heart..

Usah peduli dengan aku. Karena matamu selalu menemaniku sampai akhirnya ku menyusulmu..
Dan matamu adalah kado terindah di ultah ku 20-12-2012 !!

TAMAT